/foto : ilustrasi seseorang sedang sakit akibat penyakit demam berdarah (DBD)
MUSI BANYUASIN- Demam Berdarah Dengue (DBD) kembali menjadi ancaman nyata bagi masyarakat Kota Sekayu bulan ini. Di tengah cuaca yang tidak menentu, hujan yang turun hampir setiap pekan seolah menjadi “alarm bahaya” yang sering diabaikan. Padahal, inilah momentum paling rawan bagi nyamuk Aedes aegypti berkembang biak dan menebar ancaman mematikan.
DBD bukan sekadar penyakit musiman yang datang lalu pergi. Ia adalah persoalan serius kesehatan publik. Setiap genangan air yang dibiarkan, setiap bak mandi yang tak dibersihkan, dan setiap kaleng bekas yang teronggok di halaman rumah, berpotensi menjadi sumber petaka. Ironisnya, ancaman ini kerap dianggap sepele—hingga korban pertama jatuh sakit.
Pengalaman di berbagai daerah menunjukkan pola yang sama: kewaspadaan meningkat setelah ada korban. Rumah sakit mulai penuh, keluarga panik, dan imbauan baru digencarkan ketika situasi sudah darurat. Kota Sekayu seharusnya tidak mengulang kesalahan yang sama. Pencegahan jauh lebih murah dan manusiawi dibandingkan penanganan saat wabah sudah meluas.
Pemerintah daerah memang memiliki tanggung jawab besar melalui edukasi, fogging yang terukur, dan penguatan layanan kesehatan. Namun, harus disadari bahwa fogging bukan solusi utama. Tanpa kesadaran warga melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) secara rutin, upaya pemerintah hanya akan menjadi tambal sulam.
Editorial ini menegaskan: perang melawan DBD tidak bisa diserahkan kepada satu pihak. Masyarakat harus mengambil peran aktif dengan disiplin menjalankan 3M Plus—menguras, menutup, dan mendaur ulang tempat penampungan air, serta langkah pencegahan tambahan. Sekolah, tempat ibadah, kantor, dan lingkungan RT/RW harus menjadi garda terdepan.
DBD mengintai Kota Sekayu bulan ini, bukan sebagai ancaman abstrak, tetapi bahaya nyata yang bisa menyerang siapa saja. Pertanyaannya sederhana: apakah kita akan bertindak sekarang, atau menunggu berita duka berikutnya? Pilihan itu ada di tangan kita bersama. (Red)
