MUBA, 12 April 2026 – Pernyataan blak-blakan oknum pemilik sumur minyak ilegal berinisial Dedi yang merasa aman beroperasi di Hutan Lindung Pakerin memicu amarah aktivis. Parlan Ketua LSM Trinusa (Triga Nusantara Indonesia) secara resmi mengumumkan rencana aksi unjuk rasa di depan Markas Kepolisian Resor (Polres) Muba dalam waktu dekat.
Aksi ini dipicu oleh lemahnya tindakan hukum terhadap pelaku yang sudah secara terbuka mengakui perbuatannya di media massa, namun hingga kini belum tersentuh oleh tindakan represif aparat.
Polres Muba Didorong Ambil Alih Kasus
Ketua LSM Trinusa menyampaikan bahwa “bola panas” kini berada di tangan Kapolres Muba. Pihaknya menilai Polsek Batanghari Leko sudah tidak berdaya menghadapi cengkeraman mafia minyak di wilayah hukumnya.
“Kami tidak butuh seremoni imbauan atau sekadar ajakan cek lokasi yang tak berujung penangkapan. Pelaku sudah mengaku di media! Jika Polres Muba tetap diam, maka jangan salahkan publik jika berasumsi ada ‘main mata’ antara aparat dan mafia minyak,” ujar perwakilan LSM Trinusa.
Tuntutan Utama Aksi:
1. Segera Tangkap Dedi: Mendesak Satreskrim Polres Muba untuk menjemput paksa oknum bernama Dedi, warga Pangkalan Jaya, yang telah mengakui kepemilikan sumur ilegal di kawasan hutan negara.
2. Copot Kapolsek Batanghari Leko: Meminta Kapolres Muba mengevaluasi dan mencopot Kapolsek Batanghari Leko karena dianggap gagal menegakkan hukum dan hanya memberikan respons “edukasi” terhadap kejahatan lingkungan yang nyata.
3. Pembersihan Hutan Pakerin: Menuntut Polres Muba melakukan operasi pembersihan total di Hutan Lindung Pakerin tanpa pandang bulu.
Mengerahkan Massa Aktivis
LSM Trinusa menegaskan bahwa surat pemberitahuan aksi akan segera dilayangkan. Aksi ini direncanakan melibatkan ratusan massa untuk memastikan aspirasi masyarakat terkait penyelamatan aset negara dan lingkungan hidup tidak hanya berakhir di meja diskusi.
“Kami akan datang ke Polres Muba untuk menagih keberanian Korps Bhayangkara. Hutan Lindung Pakerin adalah paru-paru daerah, bukan tempat bermain para mafia yang merasa kebal hukum hanya karena punya uang,” tambahnya.
Kondisi Lapangan Semakin Kritis
Hingga berita ini diturunkan, aktivitas di Pakerin dilaporkan masih terus berjalan. Limbah minyak mentah kian meluas merusak struktur tanah hutan lindung, sementara para “pemain” besar seperti Dedi disinyalir masih bebas mengendalikan perputaran uang haram dari hasil jarahan bumi tersebut. (Tim)
