MUSI BANYUASIN — Ancaman banjir kembali membayangi wilayah Kabupaten Musi Banyuasin. Debit air Sungai Musi dilaporkan terus meningkat, diperparah dengan curah hujan yang nyaris turun setiap hari dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi ini menempatkan sejumlah kecamatan di bantaran sungai pada status rawan bencana hidrometeorologi.
Editorial ini menilai, kewaspadaan tidak boleh lagi bersifat imbauan normatif semata. Pengalaman banjir tahunan seharusnya menjadi pelajaran bahwa kenaikan debit Sungai Musi, jika tidak diantisipasi sejak dini, berpotensi melumpuhkan aktivitas masyarakat, merusak infrastruktur, hingga mengancam keselamatan jiwa.
Hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi yang terus mengguyur wilayah hulu dan hilir Sungai Musi membuat daya tampung sungai kian terbatas. Genangan di pemukiman rendah bukan lagi kemungkinan, melainkan tinggal menunggu waktu. Masyarakat kecil di daerah langganan banjir kembali berada di posisi paling rentan, sementara kesiapsiagaan kerap datang terlambat.
Pemerintah daerah bersama instansi terkait semestinya meningkatkan langkah mitigasi secara nyata. Pemantauan debit sungai harus dilakukan secara berkala dan terbuka kepada publik. Sistem peringatan dini perlu diaktifkan, bukan hanya saat air sudah meluap. Normalisasi sungai, pembersihan drainase, serta penyiapan lokasi evakuasi harus menjadi prioritas, bukan sekadar agenda musiman.
Di sisi lain, masyarakat juga diharapkan meningkatkan kewaspadaan mandiri. Menjaga lingkungan, tidak membuang sampah ke sungai, serta menyiapkan langkah darurat di tingkat keluarga menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko banjir.
Banjir bukan sekadar bencana alam, tetapi juga cermin dari kesiapan tata kelola wilayah. Ketika debit Sungai Musi terus meninggi dan hujan tak kunjung reda, Musi Banyuasin dituntut untuk bersiap, bukan menunggu. Keterlambatan respons hari ini dapat berujung pada kerugian besar esok hari.
